Keberanian Diri Sendiri.. :)

Masa kecilku dihabiskan dihabiskan di sebuah rumah kontrakan kecil dengan keadaan serba kekurangan. Ibuku hanyalah seirang buruh cuci dari rumah ke rumah sedangkan ayah hanya seorang pedagang kecil di sebuah pasar tradisional. Aku terlahir sebagai anak tunggal ayah dan ibu.

Hingga tiba saatnya bagiku untuk menempuh bangku pendidikan dasar. Alhamdulillah aku masuk sekolah dasar  favorit di daerah rumah ku. Beruntung saja bagiku karena pada saat itu bangku sekolah dasar tidak dipungut biaya sehingga aku dapat mengurangi beban ayah dan ibu yang membantig tulang untuk mencari sepiring nasi.

Namun pada suatu hari ketika ayah pulang dari pasar dengan membawa sebuah kabar yang sangat mengejutkan kami.

“ Assalamualaikum…”

“Walaikumsalam..”  jawabku serempak dengan ibu

“Ayah sudah pulang?? Tumben sekali pulang lebih awal dari biasanya??” tanya ibu

“Iya nih bu,ayah bawa kabar gembira buat kita sekeluarga” dengan wajah ceria

“Kabar gembira apa sih yah??,,” tanyaku dan ibu sambil terheran-heran melihat ayah

“Bapak dipercaya untuk mengelola usaha supermarket pak rio”

“Alhamdulillah..semoga kebaikan pak rio mendapatkan balasan yang setimpal dari ALLAH SWT..”

“Iya bu,dan Alhamdulillah lagi kita juga diberi salah satu rumah kontrakannya’’

“Ya allah pak,baik sekali yah pak rio itu”

“Yasudah besok kita sudah mulai pindah ke rumah itu”

“Iya pak..”

Dalam hati aku bersyukur atas rezeki yang keluarga kami dapatkan dari pak rio. Memang ia seorang saudagar kaya yang mempunyai banyak harta dan rumah , ia juga seorang yang dermawan, dan baik. Aku mengenal beliau karena ia teman lama bapak dulu sewaktu bersekolah.

Hari berikutnya aku sudah mulai pindah kerumah itu dan aku lewati dengan sukacita tanpa merasa ada yang berbeda dari kehidupan kami yang dulu. Ibu juga telah berhenti dari pekerjaan yang dulu dan membuka usaha kecil-kecilan di rumah. Sekolahku juga menjadi sangat lancar dan menjadi anak yang cukup berprestasi di sekolah. Hingga saat umurku mencapai 11 tahun, aku merasa ada yang berubah dari ayah. Ayah yang kukenal dulu seperti hilang begitu saja. Sikapnya yang berubah, setiap harinya pulang larut malam atau pagi, bahkan tak jarang juga ia tidak pulang ke rumah.

Aku dan ibu sering merasa sedih atas perubahan sikap ayah, tetapi kami tetap bersabar Karena bagaimanpun juga ia adalah pemimpin keluarga. Namun pada suatu hari aku mendengar ayah bertengkar hebat dengan ibu, entah apa yang mereka perdebatkan tetapi aku melihat tangan ayah mendarat sangat keras di pipi ibu. Hatiku pilu melihatnya, dadaku pun sesak dan aku sangat shock melihat perbuatan ayah terhadap ibu.

“Prita..!!” teriak ayah.

“Iya ayah, ada apa??”

“Kamu ini seharusnya bantu orang tua jangan nyusahin doang!!!”  dengan nada membentak

“Tapi ayah, sekolahku aja belum selesai.. Gimana aku bisa bekerja??”

“Kamu kan bisa cari kerja yang kamu bisa gak harus nunggu ijazah lengkap!! Mulai besok kamu cari kerja serabutan aja, gak usah sekolah lagi!!”

“Tidak usah prita, kamu harus tetap sekolah dan kamu ikut ibu ke rumah paman kamu. Kita tinggal disana saja..”  sahut ibu

“Tapi bu, aku masih ingin tinggal bersama ayah..”  nada memohon

“Udahlah kamu nagapain sih masih saja mau  tinggal sama bapakmu yang gak tau diri ini..!!”

“Heh..!! dasar kamu istri tidak tau di untung..!! PERGI SANA DARI RUMAHKU..!!!”

“Iya, saya akan pergi dari rumah ini. Tidah sudi saya tinggal di rumah ini lagi..!!” bentak ibu.

“SANA CEPAT PERGI..!!” bentak Ayah ke Ibu.

“Aku benci Ayah!”, itulah kata-kata yang selalu ingin kuteriakkan di dalam hati. Aku  yang mulai tidak suka dengan kelakuan ayah sejak beberapa tahun yang lalu dan akhirnya puncak kekesalanku terhadapnya telah meluap dan sudah habis kesabaranku menghadapi ayah yang semakin aneh kelakuannya. Kejadian tadi telah membuat aku dan ibu mengambil keputusan untuk pergi dari rumah dan tinggal bersma paman.

Bulan pertama aku dan ibu tinggal bersama paman hidup kami sangat tentram. Ibu telah bekerja lagi sebagai tukang cuci keliling dan aku telah bekerja di sebuah sekolah swasta yang terletak di daerah bekasi yaitu SMA PGRI 1 Bekasi sebagai penjaga koperasi siswa di sekolah tersebut. Saat itu aku telah menginjak usia 15 tahun dan bangku sekolah terpaksa aku tinggalkan.

Menjalani hari-hari tanpa ayah membuatku merasa kehilangan sosok ayah yang humoris, sayang denganku dan ibu, pekerja keras, dan termasuk orang yang disiplin. Aku ingin sekali berbagi cerita dengannya kalau aku sudah bekerja walaupun hanya sebagai penjaga koperasi.

Kebahagiaan yang ku dapat selama tinggal di rumah paman tidak selalu bahagia. Ketika Ibu sedang bekarja dan di rumah hanya ada aku, paman dan anak lelakinya saja. Aku mengalami pelecehan seksual. Aku diperkosa oleh paman dan kakak sepupuku sendiri. Kejadian itu tidak hanya terjadi sekali tetapi hampir disetiap ada kesempatan mereka memanfaatkannya.

Aku merasa malu pada diriku sendiri juga ibu. Aku memutuskan untuk kembali tinggal bersama ayah.

Sesampainya di rumah ternyata ayah masih menerimaku dan usaha yang ayah kelola sudah berkembang. Ketika sedang duduk tiba-tiba Ayah bertanya padaku.

“Prita, kamu tidak ingin sekolah lagi?”

“Iya, aku ingin sekolah lagi, tapi kalau ayah tidak dapat membiayai sekolahku tidak usah sekolah juga tak apa. Aku juga sudah malu dengan keadaanku sekarang ini”

“yasudah kamu di rumah saja tidak usah bekerja lagi biar ayah saja yeng mencarin uang..”

“Makasih ayah…prita sayang ayah…”

Kandunganku sudah semakin besar dan tak lama akan lahir seorang manusia baru dari rahimku. Sebulan kemudian anakku lahir, namun tak lama aku dapat melihatnya. Dua minggu kemudian anakku meninggal dunia.

Keinginan untuk kuliah sangat menggebu, dan ayah juga bersedia untuk membiayai. Aku kuliah disebuah universitas negeri dan mengambil jurusan komunikasi. Selesai kuliah aku bekerja sebagai penyiar radio di sebuah radio swasta. Aku tidak begitu menyukai pekerjaan ini karena cita-citaku dari kecil adalah menjadi seorang presenter. Tak lama aku bekerja sebagai penyiar radio aku diajak oleh temanku untuk membawakan acara di stasiun tv swasta.

Hingga kini aku menjadi presenter acara tv yang cukup terkenal. Aku bersyukur masih dapat mewujudkan cita-citaku, ayah dan ibu juga telah bersatu kembali. Keluargaku pun telah menjadi keluaraga  yang utuh dan bahagia untuk selamanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s