I will always waiting you, my rainbow…

Sore ini langit begitu mendung, seperti sore hari sebelumnya hujan akan segera turun membasahi bumi yang gersang ini. Sejak tadi siang aku masih tetap duduk di belakang meja belajarku yang mengarah ke jendela kamarku. Aku suka sekali menanti saat – saat hujan akan turun. Aku selalu senang ketika aku tahu bahwa langit sudah mendung dan akan segera turun hujan, persis seperti raut wajahku yang selalu mendung dan aku selalu merasa seperti di ikuti oleh awan hujan bergemuruh petir di atas kepalaku. 😦

Aku mempunyai beberapa kenangan ketika hujan turun. Dulu… tepatnya 10 bulan yang lalu, aku mengalami kejadian buruk setelah aku pulang dari kampus menggunakan motorku, dengan memaksa untuk menerobos hujan yang pada saat itu cukup deras membasahi bumi, meskipun aku memakai jas hujan tetap saja rasa dinginnya begitu menusuk hingga ke tulang. Seketika tanganku menjadi pucat dan dingin, seperti manusia vampir. Di tengah perjalanan aku merasakan sakit sekali di bagian ulu hati ku, rasanya seperti ada yang meninjunya. Untuk bernafas pun semakin terasa berat dan sakit. Sesak sekali rasanya, dan aku langsung berfikiran buruk. Apakah nikmatku untuk menghirup oksigen yang murni ini akan di cabut seketika oleh-Nya ? of course…, I hope not. 😦 sesampainya di rumah, mama ku yang melihatku datang dengan tubuh bergetar hebat akibat kedinginan segera membawakan handuk dan langsung menyuruhku mandi. Sesaat aku lupa akan sakit di ulu hatiku, tapi begitu aku ingin mengistirahatkan tubuh rasa sakit itu muncul lagi. Aku merasakan susahnya bernafas lagi. Segera saja aku memanggil mama dan menanyakan mengapa hal ini bisa terjadi. Aku juga bertanya pada temanku yang pernah mengalaminya. Saran mereka berdua sama, menyuruhku untuk segera membaluri tubuhku dengan minyak telon atau kayu putih agar hangat dan segera minum air hangat. Disaat aku sedang merasakan sakit, dia sms aku. Dia bilang, kalo aku harus jaga kesehatan karena ini sedang musim hujan. Mungkin dia tahu bahwa aku sedang sakit, tapi begitulah dia ketika sedang memperhatikan atau mengkhawatirkanku. Aaaahh dia…

Cerita di atas merupakan salah satu pengalaman burukku ketika bersama hujan. Ada lagi kisahku yang indah ketika hujan, sampai saat ini aku masih mengingatnya. Sore hari biasanya di bekasi hujan akan turun, aku masih di dalam kelas mengikuti perkuliahan. Sudah berapa kali aku bolak – balik terus melihat kearah jendela kelas, hanya untuk memastikan bahwa hujan belum turun. Setelah kuliah selesai, kelaspun bubar. Seperti biasa ketika aku akan pulang dia selalu sms aku hanya untuk bilang “hati – hati yaa di jalan 🙂 “. Aku pun membalasnya “iyaa,, kamu juga yaa hati – hati. 😉 tapi hujan nih di luar, aku nunggu reda dulu di loby…” dia bertanya aku di loby sebelah mana, aku tidak berfikiran bahwa dia akan datang menemaniku karena aku tahu dia masih bersama teman – temannya untuk mengerjakan tugas di kampus. Tapi aku salah, setelah aku beritahu bahwa aku sedang di loby deket bank kampus ternyata dia datang. Menemaniku yang saat itu sambil mengerjakan tugas praktikum fisika yang belum kelar. Kami pun mengobrol sambil menunggu hujan reda. Setelah hujan reda, dia pun menyuruhku untuk segera pulang ke rumah. Dan seperti biasanya, dia mengantarku hingga tempat dimana aku memarkir motorku. 🙂

1 tahun yang lalu, aku sangat benci jika hujan turun. Aku berfikir bahwa hujan itu hanya membuat manusia sengsara, dengan bisa menimbulkan banjir jika turun berlebihan. Tapi aku salah, aku sadar bahwa hujan dapat menyembuhkan penyakit kemarau berkepanjangan. Dan aku juga mulai menyukai hujan saat mulai mengenal dia. Sebelumnya aku merasa di sakiti oleh seseorang yang aku sayangi, aku membencinya karena aku belum bisa melupakannya. Dia datang ketika aku membutuhkan sebuah tiang penyangga agar aku bisa move on. Dia begitu perhatian dan baik sampai akhirnya dia mengaku bahwa dia menyayangiku. Tentu saja aku merasa senang, dan aku juga menyayanginya…

30 hari sudah berganti menjadi 1 bulan, aku dan dia sudah sama – sama mengetahui apa yang di rasakan satu sama lain sehingga rasa canggung itu mulai hilang. Banyak sekali yang sudah kami lakukan bersama – sama. Mungkin aku bisa membuat cerita kenangan indah bersamanya, tentu saja bila aku menginginkan membuatnya. Aahh… semua terasa indah bila di bayangkan, tetapi terasa sakit bila di ingat terus. Sampai suatu hari, hujan yang dulu membuatku senang ketika bersamanya, kini tidak kurasakan lagi semenjak adanya petir yang turut meramaikan bunyi percikan air hujan yang turun ke tanah. Petir itu datang tiba – tiba dengan suara yang begitu menggelegar, kadang mengeluarkan sedikit cahaya yang di sebut kilat. Langit yang aku lukis bersamanya kini tidak lagi di penuhi air hujan yang membuat hati damai, hanya coretan kilat yang ada. Jika kilat ada sudah pasti petir ada. Aku tidak tahu apa sebabnya petir itu datang disaat aku sudah benar – benar yakin terhadapnya. Dia bukan seperti hujan lagi yang aku senangi, dia lebih mirip petir yang membuatku takut untuk mendengarnya dan melihat kilatnya. Petir yang datang karena ada pengaruh awan yang bertabrakan di langit, sehingga membuatnya muncul tiba – tiba tanpa di ketahui waktunya dan menghilang juga tiba – tiba. Kira – kira seperti itulah dia 8 bulan yang lalu…

Aku akan merasa senang ketika hujan hampir selesai, pasti akan ada pelangi yang muncul di balik awan, memang itu sebuah keyakinan lama, tapi aku tetap menunggu pelangi itu muncul. Aku menunggu pelangi itu muncul ketika hujan sudah mulai reda. Pelangi dengan 7 warnanya yang sangat indah bila di lihat. Aku selalu mengharapkan munculnya pelangi dengan cara tidak sekalipun mengalihkan pandangan ketika bunyi petir berangsur reda. Mengharapkan pelangi muncul seperti mengharapkan dia datang. Sekarang aku menganggap dia pelangi, aku menunggunya datang ketika hujan selesai membasahiku dan petir selesai dengan tugasnya untuk membuatku kaget dengan suaranya. Dia pelangiku yang dulu bisa membuat ku selalu tersenyum ketika bersamanya dan tentu saja tanpa pernah petir menyertainya. Aaahh… pelangi, aku rindu dirimu…

Menurutku, menyalahkan sang waktu adalah hal yang paling tepat yang harus kulakukan atas semua kesedihan yang aku dapat sekarang. Waktu lah yang membuat aku bertemu dengannya, waktu lah yang membuat aku dan dia dapat saling menyayangi, waktu lah yang merubahnya menjadi sosok lain yang lebih dingin dan seperti menghindar dariku sekarang, waktu lah yang membuat dia meninggalkan aku, dan waktu jugalah yang akhirnya memisahkan aku dengan dia. 😦 Aku sering menghayal jika aku punya mesin waktu seperti film kartun yang aku lihat di televisi, mungkin aku bisa mengatur waktu agar tidak terus berlalu dan aku hanya ingin mengatur di tanggal – tanggal yang aku dan dia sedang menghabiskan waktu bersama. It’s just my wishes. 😦

Tapi aku sadar, waktu tidak mungkin mau aku salahkan, dan mungkin ini hanya salahku yang terlalu percaya pada sang waktu, yang sudah membuatku terbuai oleh kesenangan yang di berikan dia. Mungkin aku harus tetap percaya oleh waktu, bahwa waktu akan menunjukkan yang terindah lebih dari yang indah saat aku dan dia bersama. Pelangi… aku tetap menunggumu hadir setelah hujan membasahiku dan petir telah selesai membuatku takut. You’re always be my rainbow 🙂

^^ Rachmatika Irfani ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s